Dheeva Wisata

your holiday partner

Melayani

Paket wisata untuk rombongan dengan harga menyesuaikan

Tujuan Wisata

Pulau Bali, Jogja Clasik, Jakarta City

Alamat :

Jl. Puntodewo No. 15, Kel Kademangan, Kab. Blitar

Wednesday, January 11, 2017

Foto-foto Komplek Makam Bung Karno















Komplek Makam Bung Karno

Lokasi Makam Bung Karno
Lokasi makam Ir. Soekarno terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan wetan Kota Blitar. Makam presiden pertama RI ini merupakan komplek pemakaman yang berada pada areal tanah seluas 1,8 m2. Untuk menjangkau lokasi makam bung Karno sangatlah mudah, karena masih di dalam kota Blitar. Dari alun-alun Kota Blitar hanya sekitar 2,5 km saja, jika dari stasiun sekitar 3 km, sedangkan dari terminal bus sekitar 6 km.

Foto Makam Bung Karno Masih di Kaca Tebal

Komplek makam Bung karno di sisi jalan Ir. Soekarno
Komplek makam Bung Karno berada persis disisi jalan raya. Ada beberapa akses masuk, bisa melewati jalan kalasan atau jalan Ir. Soekarno. Jika melalui jalan Ir. Soekarno, setelah pintu gerbang kita akan melewati pos penjaga atau tamu. Disini setiap pengunjung diminta mengisi buku tamu dan keperluan kunjungan. Dari pos penjaga disisi kanan merupakan gedung perpustakaan dan museum Bung Karno, sedangkan disisi kiri tempat makam Bung Karno.


Mengunjungi museum dan perpustakaan bung Karno, atau dikenal sebagai gedung Persada Soekarno (Perpustakaan dan Museum Bung Karno), disini kita bisa menyaksikan beragam koleksi lukisan dan peninggalan Sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia. Dibagian luar dihiasi dengan ornamen patung dan relief perjalanan hidup beliau. Gedung persada Soekarno sendiri di resmikan oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri, pada tanggal 3 Juli 2004.

Gapura Masuk Cungkup Makam Bung Karno
Makam atau cungkup Bung Karno berada disebelah utara gedung perpustakaan dan museum. Ditandai dengan gapura besar sebagai pintu masuk. Memasuki pelataran makam, akan nampak sebuah bangunan berbentuk joglo, yaitu Cungkup Makam Bung Karno. Cungkup ini diberi nama Astono Mulyo.Diatas makam terdapat sebuah batu pualam hitam bertuliskan :
"Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia."

Taman menambah asri areal makam
Di sekitar areal cungkup makam Bung Karno, disediakan fasilitas musholla, gazebo, dan taman untuk menambah keasrian makam. Makam Bung Karno sendiri, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 21 Juni 1979.
Dengan berziarah ke makam Sang proklamator, semoga bisa menjadi sarana menghargai jasa-jasa para pejuang dan pendiri bangsa ini, dan menumbuhkan semangat nasionalisme untuk membangun bersama negeri kita tercinta, Indonesia Raya.

“Kepala Singa” di Makam Bung Karno

Rezim Soeharto mencoba “melenyapkan” Bung Karno dengan menempatkan makamnya di Blitar, Jawa Timur, sejauh mungkin dari Jakarta. Tetapi “de-soekarnoisasi” itu gagal. Makam Bung Karno tiap hari tetap diziarahi ribuan rakyat.
MACAN mati meninggalkan kulit, gajah mati meninggalkan gading. Orang besar mati meninggalkan nama. Itulah yang terjadi pada Bung Karno, Presiden Pertama RI dan salah satu proklamator kemerdekaan, meski rezim Soeharto mencoba menghapus nama Soekarno dari sejarah. Polemik sejarah tentang siapa sebenarnya penggali Pancasila bisa dibilang termasuk bagian dari upaya ini.

Rezim Soeharto melakukan segala hal untuk mengecilkan dan “menghabisi” Soekarno, termasuk melarang kunjungan keluarga dan kerabatnya ketika ia sakit, menuduhnya terlibat PKI, termasuk kemudian menolak memenuhi keinginan Soekarno sebelum wafatnya, yang ingin dimakamkan secara sederhana di Batutulis, Jawa Barat.
Putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra, menceritakan kepada D&R, Bung Karno wanti-wanti kalau meninggal jangan dibuatkan batu nisan, kijing. Jangan dituliskan segala macam gelar. Hanya tulislah Di sini Beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dan, kuburan itu kalau bisa di bawah pohon rindang.
Adapun soal tempat, itu macam-macam. Dalam salah satu surat cinta untuk Ratna Sari Dewi atau Hartini-istri-istrinya-Bung Karno menulis: “Aku ingin dikuburkan bersamamu.” Tapi, tentang perincian lokasinya ada di buku biografi Soekarno karangan Cindy Adams, yakni ingin dimakamkan di Jawa Barat, sekitar daerah Priangan. “Harus kelihatan ada sungai, gunung-gunung. Jadi, Bapak pesannya begitu,” ucap Guruh.
Setelah sakitnya mendadak menjadi gawat, Bung Karno diangkut ke RSAD Gatot Subroto pada petang hari, 16 Juni 1970. Ia meninggal pada Minggu, 21 Juni 1970. Rachmawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, menceritakan kepada D&R, hari itu diadakan rapat keluarga dan semua sepakat Bung Karno bisa dimakamkan sesuai dengan testamennya, yakni dimakamkan di Batutulis.
Bahkan, Hartini dan Dewi bersama-sama memohon kepada Soeharto agar mengizinkan penguburan Soekarno di pekarangan rumahnya di Batutulis, sesuai kehendak Soekarno. Batutulis adalah rumah Soekarno tempat ia menjalani tahanan rumah pertama kali, sebelum kemudian dipindah ke Wisma Yaso di Jakarta.
Namun Soeharto-yang sedang pada tahap-tahap awal dalam mengonsolidasikan kekuasaannya-rupanya tidak ingin mendirikan suatu tempat ziarah yang terlalu dekat dengan Jakarta. Soeharto menolak permohonan itu.
Bukan hanya itu. Bahkan, menurut penuturan mantan Duta Besar RI di Moskwa, Manai Sophiaan, permintaan istri Bung Karno yang lain, Fatmawati, agar jenazah Bung Karno disemayamkan di rumah Jalan Sriwijaya, bukan di Wisma Yaso, juga tidak diizinkan. Alasannya: mau diberi upacara pemakaman kehormatan militer.
Sempat terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI, yang waktu itu bertindak mewakili keluarga Bung Karno, dengan Alamsjah Ratu Prawiranegara dan Tjokropranolo, asisten pribadi Presiden Soeharto, untuk memutuskan di mana Bung Karno dimakamkan.
Akhirnya, Soeharto sendiri yang memutuskan di Blitar, dengan alasan supaya dekat dengan makam ibunda Bung Karno. “Pihak keluarga waktu itu sempat bertahan agar tetap sesuai dengan amanah beliau (Bung Karno). Tapi keputusan di tangan pemerintah,” kata Rachmawati.
Ada yang menarik sehubungan dengan keputusan memakamkan Bung Karno di Blitar itu. Menurut Subayo Anam, mantan kepala biro penerangan Departemen Penerangan. sekitar pukul 07.00, 21 Juni 1970, disiarkan di radio Bung Karno wafat. Waktu itu, di Istana Negara diadakan sidang. Pak Harto memanggil Bung Hatta dan juga memanggil keluarga Bung Karno. “Cuma, saya tidak tahu apa yang dinyatakan oleh pihak keluarga, itu hanya mereka yang bisa menjelaskan,” tutur Subagyo kepada D&R.

Lalu mereka mengumumkan bahwa Bung Karno akan dimakamkan didekat makam ibundanya di Blitar. Kemudian juga akan diadakan upacara kenegaraan. “Begitu selesai pengumuman tersebut, langsung saja saya beritahukan hal tersebut kepada para wartawan bahwa Bung Karno akan dimakamkan di makam pahlawan,” cerita Subagyo, “waktu itu, wartawan menjadi ribut karena bagaimana mungkin seorang presiden yang meninggal dalam tahanan akan dimakamkan di makam pahlawan. Waktu itu kan ada pendapat yang mengatakan Bung Karno tidakboleh dimakamkan di makam pahlawan.” Karena Subagyo dianggap sebagai narasumber berita tersebut, ia dipanggil tim pemeriksa pusat. Ia ditanya, apa betul Bung Karno akan dimakamkan di taman makam pahlawan. “Saya mengatakan bahwa saya orang Blitar. Waktu ibunda Bung Karno meninggal, ia dimakamkan di taman makam pahlawan Taman Bahagia Sentul,” ujarnya.
Akhirnya, 21 Juni 1970 siang, Bung Karno dibawa ke Blitar. “Saya ingat benar ketika sampai di sana ada papan nama besar bertuliskan Taman Bahagia Sentul, memang tempat itu adalah makam pahlawan,” tutur Subagyo pula. Tapi, tidak lama setelah itu, makam tersebut ditutup. Para pahlawan yang sudah dikubur di situ kemudian dipindah ke Medukgerit. Ironisnya, makam pablawan itu dipindahkan dari Sentul dengan alasan sudah penuh. Dari tahun 1970 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi orang dari Jakarta, kecuali masyarakat Blitar.

Pada awal 1970-an, makam Bung Karno dijaga tentara. Tak ada orang yang boleh mendekat, bahkan keluarganya sekalipun, kata Mat Sanuri, 44 tahun, penjaga makam yang sudah bekerja sejak 1972.
Baru pada 1978, makam itu dipugar dan dibangun, selesai pada 1979. Tepat pada haul Bung Karno, 21 Juni 1979, Soeharto meresmikan bangunan makam. Masih kata Mat Sunari, “Itulah pertama kali ia ke makam Soekarno, itu pun hanya untuk peresmian.”
* Bung Karno Marah
Apakah semua yang datang ke makam adalah soekarnois? “Ya, sebagian besar seperti itu,” kata Sutanto, tukang foto yang sudah sejak 1978 beroperasi di situ. Peziarah umumnya berasal dari berbagai macam kalangan. Warga keturunan Cina juga banyak yang datang.
Motif kedatangan para peziarah juga bervariasi. Pelajar asal Malang, misalnya, mau berekreasi. Para aktivis pro-Megawati merasa tak afdal jika datang ke Blitar tanpa berziarah ke makam Bung Karno.
Yang punya tujuan aneh-aneh juga tidak sedikit, lanjut Mat Sunari. Ada orang yang ingin hajatnya terkabul datang ke makam itu. Yang bermotivasi semacam itu umumnya berasal dari luar Kota Blitar. Bulan Agustus lalu, misalnya ada orang dari Bogor yang berpuasa selama 15 hari. Ada juga yang ingin dapat jodoh atau ingin rezekinya lancar.
Pernah ada peristiwa menghebohkan yang meramaikan makam itu, yakni soal foto makam Bung Karno yang menampakkan “kepala singa”. Peristiwa ini terjadi hari Rabu, 25 September 1996, saat Keluarga Besar Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Penerus Pelopor Kemerdekaan Bangsa Indonesia nyekar ke makam tersebut. Mereka mengambil foto makam Bung Karno.

Setelah foto itu dicetak terjadi heboh karena terlihat gambar kepala singa di batu nisan Bung Karno yang terbuat dari marmer itu. Hal ini tentu saja menggemparkan warga sekitar dan mengundang berbagai penafsiran.
Ada yang mengatakan “Bung Karno marah” karena saat itu tak lama setelah terjadinya Peristiwa 27 Juli: penyerbuan berdarah yang didukung pemerintah Soeharto terhadap markas Dewan Pimpinan Pusat PDI yang dikuasal kubu Megawati Soekarnoputri di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ada juga yang beranggapan, potret kepala singa itu hanyalah efek fotografi karena pantulan cahaya lampu kilat dari bidang mengkilap yang bisa memunculkan gambar apa saja.
Yang jelas, kehebohan itu sendiri menunjukkan betapa berartinya keberadaan makam Bung Karno bagi masyarakat di Blitar. Bahkan, sesudah matinya, nama Bung Karno masih jadi andalan untuk mencari penghidupan oleh rakyat setempat. Sepanjang jalan menuju makam terlihat banyak pedagang suvenir berjajar di pinggir jalan. Mereka menjual kaus, tas, asbak, kalung, dan beragam hasil kerajinan tangan bikinan warga Blitar.
Makam Bung Karno sendiri tiap harinya dijaga 12 orang. Ada yang bertugas menjaga kebersihan taman, makam, dan yang menjaga kantor. Semuanya digaji oleh Pemerintah Daerah Blitar. Ada yang digaji harian, ada juga yang bulanan, tergantung masa kerjanya. Sunari sendiri, sekalipun sudah bekerja sejak 1972, baru diangkat sekitar 10 tahun lalu sebagai pegawai pemerintah daerah, dengan gaji Rp 350.000 per bulan.
Soekarno pada akhirnya memang terlalu besar untuk bisa dikecilkan.
Satrio Arismunandar/Laporan: Rachmat H. Cahyono, Reko Alum (Jakarta), dan Abdul Manan (Surabaya)
D&R Edisi 980926-006/Hal. 22 Rubrik Sejarah

Monday, January 9, 2017

Wisata Edukasi "spirit History of Java" Blitar

Kemasan wisata yang mengandung pendidikan sejarah "Bhumi Laya Ika Tantra Adi Raja".mengenal Blitar dari sisi sejarah, tempat yang dikunjungi diantara:




Candi Penataran
pertanyaan sederhana yang banyak orang tidak bisa menjawab dengan jelas. Apa itu Candi Penatara? siapa yang membangunya? apa fungsinya?. pertanyaan tersebut akan bisa terjawab bila kita mau sedikit meluangkan waktu membaca, apakah dengan membaca cukup?. Tidak. Sangat rugi bila Kita tidak melihat langsung Peninggalan Leluhur Kita. Candi Penataran Termasuk salah satu komplek candi terbesar di wilayah Jawa Timur. 





Istana Gebang
Rumah yang dijadikan museum, terdapat peninglan keluarga Soekemi Sosrodihardjo ayah handa Ir. Soekarno. Cerita masa kecil Bung Karno berada di Blitar. Hanya sekedar berkunjung akan rugi. jadi gunakan jasa pemandu di museum Istana Gebang. Pertanyaan sederhana, Kenapa di sebut Istana Gebang?, silakan mencarinya.





Kampung Gerabah "Precet"

Kearifan lokal sebuah dusun yang terus menjaga aktifitas dari peradapan lama di era peradaban moderen. Dimana barang-barang yang dibuat sudah jarang dijumpai. Leluhur kita mengunakan tanah liat untuk membuat barang rumah tangga. Seni Kriya Gerabah peningalan leluhur kita, apakah sudah pernah mencoba?, seperti apa proses pembuatannya di jelaskan langsung oleh instruktur.




Kebon Rojo "Hutan Kota"

Hanya sedikit kota yang memiliki Hutan Kota, tetapi di Blitar Hutan Kota masih terjaga, terawat dengan asri. Selain pohon-pohon langka juga terdapat binatang yang di pelihara di dalam Hutan tersebut, seperti; Rusa, Kera, Burung Merak dan Beberapa jenis burung. 

Pendopo Ronggo Hadinegoro Kabupaten Blitar
Pendopo Kabupaten Blitar dibuka secara umum pada hari minggu. di Pendopo Ronggo Hadinegoro Kabupaten Blitar masyarakat memasuki ruang kerja Bupati Blitar. Banyak sisi history yang bisa didapat. sedikit cerita tentang pendopo Kabupaten Blitar dari sisi Tata Kota, Blitar masih mempunyai Alun-alun yang berada tepat di depan pendopo, sebelah kiri adalah Lembaga Pemasyarakatan dan di sebelah kanan adalah Masjid. Kenapa seperti itu?, silakan berkunjung

tempat-tempat inilah yang akan dikunjungi dan diceritakan sejarah Blitar secara menyeluruh. Tujuan dari Wisata Edukasi "spirit History of Java" Blitar adalah Mengenal Blitar dari sisi sejarah. Sangat disayangkan bila Kita tidak kenal dengan tempat kita dilahirkan. "Kenali Negerimu


Paket Wisata Edukasi

  • Armada Elf
  • Pemandu/guide Blitar
  • Makan 1x
  • Tiket Masuk

Harga Rp.   50.000,- (Pelajar)
Harga Rp.   75.000,- (Dewasa)
Harga Rp. 200.000,- (Wisman, Support Speak English)


Alamat :
Jl. Puntodewo No. 15, Kel. Kademangan
Kabupaten Blitar, Jawa Timur
_________________________________
Kantor Marketing :
Jl.Riau No.58, Sanan Wetan
Kota Blitar, Jawa Timur
Hp/WA : 082331077007
email : dheeva.wisata.blitar@gmail.com
_________________________________
Consutan wisata:
Suhut Rusliyanto
BBM : D54800DA
WA : 085649292070
_________________________________
Reservasi Armada:
Diyan Mahesa Lubis
BBM : D621819D
WA : 082299200367


Wednesday, January 4, 2017

Open Trip Blitar





Paket 1
Hari Pertama : Argo Blimbing, Kampung Coklat, Makam Bung Karno
                        inap satu malam di hotel bintang AC
Hari Kedua   : Istana Gebang, Kebon Rojo, Odabli


Paket 2
Hari Pertama : Pantai Serang, Kampung Coklat, Omah Jenang
                        inap satu malam di hotel bintang AC
Hari Kedua   : Makam Bung Karno, Istana Gebang, Oleh2 Sambel Pecel

Paket 3
Hari Pertama : Pantai Tambak Rejo, Kampung Coklat, Omah Jenang
                        inap satu malam di hotel bintang AC
Hari Kedua   : Makam Bung Karno, Istana Gebang, Oleh2 Sambel Pecel

Paket 4
Hari Pertama : Candi Penataran, Kebun Kopi Karang Anyar, Makam Bung Karno
                        inap satu malam di hotel bintang AC
Hari Kedua   : Kampung Coklat, Argo Blimbing, Oleh2 Sambel Pecel


Jemput Terminal/Stasiun Blitar
harga Rp. 350.000,-/Orang (Minimal 10 Orang )

Jemput Bandara Juanda
harga Rp. 450.000,-/Orang (Minimal 10 Orang )

Fasilitas :

  • Armada Elf
  • Hotel 2 Orang per Kamar
  • Makan 5x


Info lebih lanjut
Kantor Marketing :
Jl.Riau No.58, Sanan Wetan
Kota Blitar, Jawa Timur
Hp/WA : 082331077007
email : dheeva.wisata.blitar@gmail.com
_________________________________

Consutan wisata:
Suhut Rusliyanto
BBM : D54800DA
WA : 085649292070
_________________________________
Sewa Kendaraan:
Diyan Mahesa Lubis
BBM : D621819D
WA : 082299200367



Trip Unik
M A C A N  K A S E N T A K
Makam, Candi, Kademangan, Serang / Tambak
M A C A N  P A R A M U N
Makam, Candi, Pacuh, Rambut Monte

Friday, December 9, 2016

Histori of Java










Waduk Wonorejo, Ranu Gumbolo nya Tulungagung


Keindahan dan kemegahan Waduk Wonorejo Tulungagung mungkin sudah banyak di ketahui oleh para pengunjung. Namun sebenarnya masih ada sisi lain dari Waduk Wonorejo yang tak kalah eksotis. Lokasi lingkar Waduk Wonorejo Tulungagung tak jauh dari lokasi utamanya. Meskipun harus sedikit berjuang dengan jalan turun yang sedikit rusak, akhirnya kami sekeluarga menemukan sisi lain keindahan Waduk Wonorejo Tulungagung.
Untuk menemukan lokasi Lingkar Waduk Wonorejo Tulungagung tidaklah sulit. Setelah kita sampai di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung kita akan melewati gapura dengan Tulisan Bendungan Wonorejo. Dari gapura kita ikuti jalan sampai menemukan hotel kanan jalan di luar loket Bendungan Wonorejo Tulungagung. Kita ikuti jalan turun namun sedikit rusak sampai kita temukan tempat parkir dan warung. Setelah sepeda motor kita parkir di sana dan perjalanan kita lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter, kita akan menemukan keindahan sisi lain dari Waduk Wonorejo Tulungagung atau Ranu Kumbolonya Tulungagung.

sumber : ayotraveling.id

Pesona Wisata Ranu Gumbolo, Tulungagung


Ranu Gumbolo sepintas kedengarannya mirip Ranu Kumbolo yang ada di gunung Semeru. Eits tetapi Ranu Gumbolo yang satu ini ada di kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Yang pasti merupakan destinasi wisata baru yang menarik perhatian para wisatawan.

Mungkin pemberian nama Ranu Gumbolo terinspirasi dari Ranu Kumbolo, yang beda hanya pada Kumbolo dan Gumbolo. Ranu artinya danau atau kolam, bisa juga diartikan telaga atau air. Sedangkan Gumbolo diadopsi dari kata Kumbolo yang artinya tempat berkumpul.

Bila Anda pernah berkunjung ke Ranu Kumbolo di kaki gunung semeru dan Ranu Gumbolo di Tulungagung ada kemiripan yaitu sungai mirip danau. Meskipun termasuk tempat wisata baru, Ranu Gumbolo ramai dikunjungi para kawula muda dari berbagai daerah.
Ranu Gumbolo, Tulungagung

Lokasi wiata ini mulai banyak di kunjungi serta diminati oleh masyarakat Tulungagung dan masarakat luar daerah. Sebenarnya lokasi wisata ini sudah lama ada tapi baru terkenal sekitar tahun 2015 kemarin. Objek wisata Ranu Gumbolo ini biasanya dijadikan sebagai tempat nongkrong para muda-mudi di siang hari sambil menikmati keindahan pemandangan alam yang asri.

Selain dijadikan tempat nongkrong para muda-mudi lokasi tersebut juga dimanfaatkan warga untuk memancing ikan. Banyak para penghobi memacing yang datang ke lokasi tersebut mulai dari warga sekitar ataupun masarakat luar daerah. Jenis ikan yang ada di lokasi wisata Ranu Gumbolo ini diantaranya yaitu Ikan Grameh, Ikan Nila, Ikan Mujair, Ikan lele, bahkan kadang ada juga yang menemukan jenis ikan Louhan.
Ranu Gumbolo, Tulungagung 2

Di lokasi wisata ini masih belum ada retribusinya, alias gratis untuk masuk ke lokasi tersebut. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir montor sekitar kurang lebih Rp 2.000 saja. Lumayan murahkan untuk tempat lokasi yang se secantik itu. Selain itu di sekitar lokasi tersebut sangat bersih, oleh sebab itu para pengunjung sanagat betah untuk menikmati keindahan alam di lokasi wisata Ranu Gumbolo.
Ranu Gumbolo, Tulungagung 3

Akses Menuju Ranu Gunbolo, Tulungagung

Rute jalur menuju objek wisata Ranu Gkumbolo ini, apabila wisatawan dari arah Surabaya mengarah ke Tulungagung, ikutilah rambu yang terpampang di pinggir jalan mengarah ke Wonorejo. Setelah melewati pintu masuk Waduk Wonorejo ikuti jalan sampai menemukan sebuah SD, kemudian ambil arah kanan sampai menemukan jalan bercabang pertama, ambil arah kanan (apabila lurus ini mengarah ke Waduk Wonorejo). Ikuti jalan saja sampai pada tempat parkiran Ranu Gumbolo. Di lokasi ini pengunjung juga dapat menikmati pemandangan keindah Waduk Wonorejo, dikarenakan tempatnya bersebelahan.
Ranu Gumbolo, Tulungagung 4

Dilokasi tersebut pengunjung bisa berfoto-foto atau mengambil gambar di lokasi tersebut. Dikarenakan lokasi ini sangat cocok dan bagus apabila dijadikan sebuah backround foto Anda. Setelah pengunjung puas berfoto ria di lokasi Ranu Gumbolo selanjutnya menuju ke lokasi objek wisata Tumpak Bledek. Objek wisata Tumpak Bledek adalah suatu tempat yang dulunya merupakan lokasi penambangan masyarakat sekitar. Pemandangan di objek wisata Tumpak Bledek ini tidak kalah indahnya dengan Ranu Gumbolo maupun Waduk Wonorejo. Nah bagi Anda yang berkunjung ke kabupaten Tulungagung jangan sampai terlewatkan untuk singgah ke lokasi objek wisata tersebut.