Dheeva Wisata

Your holliday partner

Amazing Blitar

Spirit Histori of Java

Dheeva Wisata

Tour Organizer

Reservasi Armada

Sewa Bus Pariwisata Blitar

Peyek Uceng Sukaria



Warung ini biasa disebut warung Sukaria mungkin karena disesuaikan dengan nama pemiliknya yaitu Haji Sukari atau dikenal juga dengan nama Warung Nasi Uceng ‘Djoyo Mulyo & rsquo; dan letaknya dipelosok di desa Babadan, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar.Dahulu lokasi warung ini masuk ke pelosok desa kira2 tepatnya ke arah barat dari lokasi yang sekarang yang mana sudah berada di pinggir jalan dari wlingi ke arah batu malang.
Awalnya Haji Sukari hanya berjualan Nasi Pecel dengan lauk peyek Uceng yang dirintisnya sejak tahun 1977. Seiringdengan permintaan pelanggan maka dibuatlah menu baru Uceng goreng dengan Lalapan dan sambal hingga menjadi menu andalan warung ini sekarang. Tersedia juga ikan Uceng yang di masak sayur seperti umumnya masakan khasorang desa, ada pula ikan wader goreng, udang kali goreng dan aneka ikan air tawar yang didapat dari sungai-sungai di sekitar daerah Wlingi. dan yang khas lagi adalah terancam, yaitu mentimun yang dicacah, dicampur kemangi dan parutan kelapa, biasanya menjadi campuran nasi pecel. Uceng adalah ikan air tawar, biasanya hidup di sungai yang airnya jernih dan mengalir deras. Ikan ini bentuknya bentuknya bulat dan memanjang kira2 sebesar jari kelingking, tidak bersisik dan terdapat garis-garis vertikal hitam di badannya. Cara mendapatkannya langsung dijaring di sungai, atau menggunakan perangkap semacam "wuwu" yang ukurannya kecil. Wuwu kecil itu di bagian tutup depan dikasih umpan nasi yang dilumatkan dan dicampur bawang putih.
Sore dipasang dengan cara dibenamkan ke dalam air sungai, pagi harinya diambil, uceng sudah masuk perangkap. Pernah juga ada upaya budidaya Uceng, agar tidak merusak ekosistem sungai. Namun upaya itu gagal sehingga mengandalkan bahan baku yang di dapat langsung di alam seperti di kali Lekso yang merupakan jalur aliran lahar Gunung Kelud, bisa anda bayangkan sungai ini penuh dengan batuan material gunung kelud dan airnya sangat bening dan deras ditambah hawa pengunungan yang sejuk menjadikan airnya dingin dan segar. Setiap hari, Haji Sukari menghabiskan 40 hinga 50 kilogram Uceng. Itu belum termasuk wader dan udang sungai, serta ikan air tawarnya. Setidaknya ada 20 orang pemasok Uceng dari Desa Babadan sendiri, serta desa di sekitar wilayah Kecamatan Wlingi. Bagi anda yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh, Warung Sukari sudah menyediakan Uceng goreng dalam kemasan plastik dan setiap bungkusnya berisi seperempat kilogram dan dijual dengan harga Rp 15.000,-



Rute Lokasi

Dari arah kota Blitar setelah melewati masjid Agung Wlingi ketemu SPBU kemudian belok kiri atau ke arah utara (mengikuti jalur BUS) setelah melewati depan RS Wlingi maka jalur Bus ini akan berbelok ke kanan atau arah timur kemudian bertemu pertigaan Gurid dimana ada sebuah prasasti dipinggir jalan namanya Prasasti Munggut, dari sini belok ke kiri atau ke arah utara jurusan Obyek Wisata Rambut Monte, Nah kira-kira 500m-1km di kiri jalan tetulis nama Warung Jaya Mulya.Dari arah Kota Wlingi, setelah melewati Pasar Wlingi ada pertigaan jangan ambil yang belok ke kanan karena itu ke arah Kawedanan melalui jembatan kali lekso, ambil jalur lurus dan kemudian belok ke kiri hingga sampai di pertigaan tempat prasasti Munggut berada selanjutnya tinggal belok kanan Karena saking khasnya sekarang ini telah bermunculan penjual Nasi Uceng salah satu diantaranya terletak di depan SPBU Garum sebelah utara jalan


Wisata Kuliner di Kota Blitar



Kalo anda sekalian mampir atau sedang mudik ke kota Blitar, sempatkanlah berwisata kuliner. Karena banyak sekali menu makanan khas yang mungkin sulit anda jumpai di kota lain. Anda ingin tau apa saja yang terkenal dengan cita rasa yang khas dari Blitar? Coba sampeyan kunjungi tempat berikut ini :

1. Ayam Bakar Bu Mamik
Jl. Veteran No. 103, Blitar, Telp. (0234) 806634

2. Wajik Kletik Bu Prayitno
Jl. Sultan Agung, Gg. 1 No. 24, Blitar

3. Depot Es Mini
Jl. Wahidin No.14, Blitar

4. Sambal Pecel Mbok Sari
Jl. Slamet Riyadi Nbo. 93, Sentil Blitar

5. Bluder Ny. Erna
Jl. Ahmad Yani No 69

6. Depot Sediarasa Bu Saini
Jl. Tanjung No. 5 Blitar, Telp (0342) 809069
Andalannya, iwak kutuk, sejenis ikan lele yang dimasak dengan bumbu kuning kuah santan.

7. Soto Ayam ‘Jawa’ Fauzi
Jl. Dr. Wahidin No. 38, Blitar, Telp (0342) 803752
Soto kuah bening kaldu ayam kampung dengan taburan bubuk koyah.

8. Mi Jawa
Jl. Kelud No. 34
Menyediakan mi telor yang dimasak dengan tungku tanah liat dan arang. Aromanya sangat khas.

9. Nasi Gule Khas Blitar
Jl. RA. Kartini No. 19 Blitar
Sajian nasi dicampur jeroan kambing masak.

10. Es Dawet Serabi Khas Blitar
Jl. RA Kartini No. 19, Blitar
Sajian nasi dicampur jeroan kambing masak.

11. Es Dawet Serabi Khas Blitar
Sepanjang Jl. Srengat, arah Kediri
Sajian Dawet dan irisan serabi plus agar-agar.

Sebenarnya masih banyak menu lain yang belum bisa dipublish karena belum dapat info alamat lengkapnya. Seperti : Bakso Urat Pandean, Peyek Uceng Babadan Wlingi, Dawet Srabi Mbah Tunggak, dll.

Walau si Penulis belum mencoba semua menu di atas, tapi data tersebut kami himpun dari koresponden yang valid dengan bantuan Oom Google :d .

So, jangan lupa dicatet ya menu² nya atau kalau perlu Print juga deh Artikel ini hehehe.

untuk rombongan silakan Klik disini




Purnama Seruling Penataran (PSP)



Seruling Purnama Penataran merupakan event anyar gagasan dari Dewan Kesenian kabupaten Blitar. Masih sedikit yang tahu perihal event budaya Seruling Purnama yang digelar di area Candi Penataran Nglegok Blitar tersebut. Seruling Purnama menghadirkan beberapa tontonan kesenian mulai dari Musik Calong, Tari Purnama, serta seni drama lokal. Dewan Kesenian Kabupaten Blitar saat ini diketuai oleh Wima Bramantya. Rangkaian Acara Seruling Purnama Penataran yang dilaksanakan pada 21 Desember 2010 dimulai pukul 20.00 WIB

Candi Penataran yang sampai pada saat ini masih minim lampu penerangan menambah kekhusyukan acara yang digelar. Seluruh area candi diberi oncor (obor) yang dibungkus gedebok pisang membuat cahaya yang terpancar redup nan indah. Bahkan bebatuan candi yang datar dan memungkinan ditempatkan sebuah oncor juga sudah penuh oleh oncor yang nampak seperti lilin bila dilihat dari jauh. Sementara lampu dari listrik yang memang sudah minim, dimatikan pula. Cahaya bulan purnama menambah kesyahduan dan keindahan suasana Candi Penataran.

Musik Calong yang serba terbuat dari bambu mulai terdengar, penonton yang hanya beberapa orang nampak serius memperhatikan geguritan dan beberapa tembang dari para penembang langgam jawa. Tembang Blitar Kawentar sebagai pembuka keseluruhan rangkaian acara terlantunkan dengan apik.

Kalau tidak salah, event Seruling Purnama sudah digelar 3 kali ini. Namanya juga Seruling Purnama jadi penyelenggaraanya ya dimalam Bulan Purnama. Suara seruling pun tak henti-hentinya mengiringi acara demi acara. Sungguh sangat MAJAPAHIT banget.

Mungkin sedikit yang perlu menjadikan koreksi. Aksi seni pertunjukan yang dikemas dalam Seruling Purnama dipelataran Candi Penataran sebenarnya sangatlah bagus. Namun penonton sangat sulit melihatnya dengan jelas mengingat lampu penerangnya memang sengaja hanya mengandalkan cahaya obor sehingga jarak 3-5 meter sudah sulit menangkap aksi pertunjukkannya. Mungkin kedepannya event yang rencananya akan terus dilaksanakan setiap malam bulan purnama sudah menemukan cara agar pentas seni dapat dinikmati seluruh penonton atau undangan yang hadir.

Dan satu hal lagi yang mungkin juga perlu diperhatikan, Candi Penataran dipercaya adalah candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Crnga (Grenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Grengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).

Maka Candi Penataran merupakan tempat suci yang tidak sembarang orang boleh berbuat sekehendak hatinya. Dan apabila melihat gelagat event Seruling Purnama di Candi Penataran yang tidak menutup kemungkinan bakal menjadi event besar, alangkah bijaknya untuk lebih memikirkan agar kegiatan yang bagus itu sekiranya tidak membuat kotor dan mengantisipasi terjadinya kerusakan pada elemen-elemen pendukung tersusunnya candi Penataran. Intinya, event Seruling Purnama sudah demikian bagus, tapi semua juga harus tetap menjaga kebesaran Candi Penataran berikut mengormati norma-norma yang diyakini para leluhur. Agar kita semua menjadi orang yang berbudi luhur.
galery Foto Beberapa Kali PSP berlangsung








sumber

Hari Raya Idul Fitri 1432 H



اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيم

Segenap crew Dheeva Wisata mengucapkan:

تَÙ‚َبَّÙ„َ اللَّÙ‡ُ Ù…ِÙ†َّا ÙˆَÙ…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ

“Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H.

SEPULUH SUKSES MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN



“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Rasulullah tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk tidak terjerumus didalamnya. Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut.


Sepuluh indikasi sukses meraih keutamaan Ramadhan :

1. Memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban

Ibadah sunnah di bulan Sya’ban berfungsi pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperba-nyak ibadah shalat, tilawatul Qur’an sebelum Ramadhan, akan menja-dikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa.

Itulah hikmahnya kenapa Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban.

2. Memenuhi target pembacaan Al-Qur’an

Orang yang berpuasa di bulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bukan ini karena memang itulah target minimal pembacaan al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

3. Memelihara lidah

“Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidak berbicara buruk dan aib. Dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki sese-orang maka berkatalah, “Aku berpuasa.” (HR. Bukhari)

4. Menjaga pandangan dari yang haram

Puasa yang tidak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya boleh jadi puasnya secara hukum sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.

5. Menghidupkan malam dengan ibadah

Salah satu cirri khas bulan Ramadhan adalah Rasulullah menganjur-kan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.




6. Tidak makan berlebihan di saat berbuka

Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang, menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari, maka nilai pendidikan puasa akan hilang.

Puasa pada hakikatnya adalah pendidikan bagi jiwa untuk mengenda-likan diri dan menahan hawa nafsu. Hasil pendidikan itu akan tercermin dalam pribadi orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakkal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah unsur pendidi-kannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat berbuka

7. Mengoptimalkan infaq

Rasulullah saw, seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat diban-dingkan bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.

8. Memperbanyak ibadah di 10 hari terakhir

Rasulullah dan para sahabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam di dalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, sat diturunkannya al-Qur’an.

Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan, mereka mera-sakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang berguman jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

9. Tidak bermaksiat lagi setelah Ramadhan

Jangan memandang Idul Fitri dan selanjutnya sebagai hari “merdeka” dari pejara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.

10. Memelihara kesinambungan ibadah setelah Ramadhan

Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkat untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan itu.

English Tourism STKIP PGRI





Danau Dua Rasa




Jauh di pedalaman Kalimantan Timur sana, terbentanglah Danau Labuan Cermin. Danau bening ini istimewa karena memiliki laut di dasarnya. Laut di dasar danau? Benar, danau ini memiliki aliran air asin yang hanya ada di bagian bawah danau.

Yahoo!/Famega Syavira

Labuan Cermin terletak di Kecamatan Biduk-biduk, Kalimantan Timur. Jika dilihat di peta, letaknya tepat di punggung hidung Kalimantan. Tempat ini bisa ditempuh dalam tiga jam perjalanan laut dari Derawan.

Bagian atas Danau Labuan Cermin berisi air tawar seperti danau pada umumnya. Namun beberapa meter di bawahnya terdapat aliran air asin. Anehnya, kedua jenis air ini tidak tercampur. Secara kasat mata dapat dilihat bahwa air laut dan air tawar dipisahkan oleh lapisan serupa awan.

Belum ada yang melakukan penelitian di daerah ini sehingga terbentuknya fenomena ini masih menjadi misteri.

Lapisan keruh berwarna putih itu diduga hasil pembusukan organisme dasar labuhan yang terperangkap dan tak bisa pergi. Dua jenis air di danau ini juga menghadirkan organisme dari dua dunia. Ikan air tawar hidup di permukaan, sedangkan ikan air laut bisa ditemukan di dasar danau.




The Nature Conservancy/Rudyantoi

Saat saya kesana, kebetulan lapisan air tawar sedang tipis. Awak kapal menyelam dan sempat mencicipi air asin di kedalaman sekitar dua meter. Rupanya ketebalan lapisan air tawar dan air asin bisa berubah sesuai dengan pasang-surut air laut.

Danau mungil ini dikelilingi hutan dan ada tebing menjulang tinggi di salah satu sisinya. Sambil berenang kami disuguhi musik hutan — suara burung dan serangga. Tak mengherankan jika danau ini diberi nama Labuan Cermin: airnya jernih sekali sampai orang bisa bercermin di atasnya. Arus di beberapa tempat cukup kuat dan mudah menyeret orang yang tak bisa berenang.



The Nature Conservancy/Rudyanto

Untuk menuju tempat ini kami harus menumpang sampan nelayan dan melewati perjalanan selama 15 menit, menembus semak bakau dan hutan. Hutan itu masih dihuni aneka binatang liar seperti monyet, bekantan, berang-berang dan beruang madu.

Karena jaraknya cukup jauh dari kota, jarang atau hampir tidak ada turis yang berkunjung ke sini. Tempat ini hanya dikenal oleh orang-orang lokal dari sekitar daerah itu. Fasilitas dan prasarana pun masih seadanya. Tempat kami menginap adalah sebuah Pusat Informasi Nelayan (PIN) binaan The Nature Conservancy, lembaga pegiat pelestarian lingkungan yang mengundang saya mengunjungi tempat ini.

PIN berbentuk rumah panggung di tepi muara sebuah sungai, hanya beberapa ratus meter dari laut. Rumah itu punya semacam dermaga kecil tempat menambatkan perahu. Sungai di depan PIN berair payau. Kadar keasinannya tergantung pada pasang-surut air laut. Ketika laut surut, sungai berubah menjadi sangat jernih sehingga dasarnya dapat dilihat dengan jelas.


The Nature Conservancy/Rudyanto

Dari beranda kita bisa melihat ikan berseliweran. Ardi, anak nelayan yang suka bermain di PIN menjelaskan pada kami jenis-jenis ikan itu. Ada ikan yang banyak durinya, ada ikan yang menyengat dan ikan yang bertubuh pipih panjang. Tak hanya dikunjungi oleh para nelayan, PIN juga menjadi tempat berkumpul anak-anak nelayan yang hendak menonton film tentang kehidupan laut atau membaca koleksi perpustakaan.

Hari mulai gelap saat beberapa nelayan berangkat melaut. Adapun kami menghabiskan malam dengan minum kopi di beranda dan menatap air sungai dan bulan nyaris purnama. Suasana damai yang tak bisa ditemui di kota.


Taman Laut Terbesar di Indonesia



Inilah kecantikan Raja Ampat yang mulai termasyhur itu. Terdiri dari 1500 pulau dan atoll, serta empat pulau besar, Raja Ampat menyimpan terumbu karang terlengkap di dunia. Belum lagi perairannya. Dengan air sebening kaca, dari tebing dengan ketinggian 100 meter, ikan-ikan di bawahnya pun bisa terlihat jelas.

Raja Ampat pun menjadi rumah bagi berbagai spesies burung cendrawasih, maleo, nuri, kakatua serta beragam anggrek.

Menyelam adalah aktivitas favorit bagi mereka yang pergi menuju taman laut terbesar di Indonesia ini. Lihatlah foto-foto keindahan Raja Ampat di bawah ini:




Pantai Siung Yogyakarta



Pantai Siung adalah salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Meski termasuk yang paling baru dikenal, pantai ini telah menjadi andalan wilayah tersebut. Belum lama ini, saya mengunjungi pantai itu dan menyadari potensi wisata yang dimilikinya.

Siung terletak di Kecamatan Tepus, sekitar 70 km dari Yogya. Berbeda dengan pantai-pantai yang telah lebih dahulu dikenal seperti Parangtritis, Siung termasuk pendek. Pantai ini terletak di cekungan yang panjangnya hanya sekitar 300-400 m. Namun justru di sinilah letak keistimewaannya.

Pantai pendek ini dikelilingi oleh karang-karang besar berwarna kehitaman, yang sebagian besar ditumbuhi vegetasi dan lumut hijau. Paduan laut biru jernih dan karang kehijauan menambah keindahan panorama tempat ini.



Pantai Siung. Foto: Puput Aryanto

Siung bukanlah pantai yang paling ideal untuk berenang karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Topografi pantai yang berkarang dan berbatu serta ombak yang besar pun menyulitkan Anda untuk berenang. Tak heran pemerintah setempat memasang tanda larangan berenang. Namun, tentu Anda masih bisa bermain-main air di pinggir pantai.

Keistimewaan lain dari pantai ini adalah masih banyaknya pepohonan di pinggir pantai. Anda tinggal menyewa tikar dari penduduk sekitar dan berteduh di bawah pohon-pohon itu.

Selain cocok sebagai tempat melarikan diri dari kesibukan sehari-hari, Siung sangat sesuai bagi Anda yang memiliki hobi fotografi. Pantai yang pendek dan dibatasi karang-karang justru merupakan objek foto yang sangat menarik.

Bila tidak keberatan mengeluarkan keringat, Anda dapat mengikuti jalan setapak di sisi kiri pantai untuk mencapai puncak tebing. Sekitar 10-15 menit dibutuhkan hingga sampai ke puncak. Dari sana, akan terlihat keseluruhan pantai dan karang-karang besar di sisi kiri dan kanan. Juga terlihat Pantai Wediombo yang berada di sisi sebelah timur Siung.

Selain menjadi objek wisata dan foto yang menarik, daerah di sekeliling Pantai Siung juga sering dijadikan tempat latihan panjat tebing. Mahasiswa pencinta alam di Yogya — dan bahkan luar kota — sering berlatih di sini, memanfaatkan tebing-tebing dengan ukuran bervariasi dan jalur yang beragam.

Karena baru dikenal beberapa tahun belakangan ini, Siung belum banyak dikunjungi wisatawan. Air lautnya masih jernih, karang-karangnya pun masih bebas dari tangan-tangan jahil manusia.

Penduduk setempat telah membangun warung, toilet dan mushola di pantai ini. Berbeda dengan tempat wisata kebanyakan, harga-harga di pantai ini masih tergolong normal sehingga pantai ini dapat menjadi opsi jalan-jalan murah bagi Anda.

Bila perut mulai melilit, Anda dapat mendatangi salah satu warung yang berjajar di pinggir pantai. Biasanya mereka menyediakan mi instan, nasi dan lauk, serta es kelapa muda. Anda juga dapat meminta penjaga warung untuk memasakkan ikan yang baru ditangkap nelayan.

Sayangnya, di daerah ini banyak nelayan menangkapi bayi hiu padahal hewan itu adalah salah satu spesies yang dilindungi.
Menuju Siung

Dengan kendaraan pribadi dari Yogya, Anda tinggal menuju ke Jalan Wonosari. Dari Yogya hingga ke Wonosari, ibukota Gunungkidul, dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam perjalanan. Hati-hati terhadap jalan yang menanjak dan berliku.

Sampai di Wonosari, Anda tinggal mengikuti jalan ke arah Pantai Baron hingga persimpangan yang menuju ke Pantai Siung. Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Siung sekitar 2-2,5 jam tergantung moda transportasi dan kecepatan kendaraan Anda.

Bila Anda memilih kendaraan umum, Anda harus naik bis ke terminal Wonosari. Di sana Anda harus berganti dengan minibus arah Tepus atau Jepitu. Di perhentian terakhir Anda harus menyewa ojek.

Karena jalur transportasi umum masih kurang memadai, cara ini tidak disarankan. Anda yang berasal dari luar kota lebih baik menyewa motor/mobil di Yogya, dan menempuh perjalanan sendiri hingga lokasi yang dituju.

Jangan khawatir, seperti hampir keseluruhan wilayah Yogyakarta, akses jalan hingga ke tempat-tempat terpencil – termasuk Siung dan pantai-pantai di sekitarnya – adalah jalan aspal halus.

Dengan kendaraan pribadi, Anda juga akan lebih mudah untuk mengunjungi pantai-pantai lain di wilayah itu, antara lain Sundak, Krakal, Wediombo dan Sadeng. Mari kita ke Yogya!

Harga tiket (pungutan resmi)
Orang Rp 1000
Mobil Rp 1500
Motor Rp 1000

Parkir
Mobil Rp 5000
Motor Rp 2000

Parade Lampion 31 Juni 2011



tanggal 31 Juni 2011 adalah malam peringatan hari Lahirnya Pancasila, Kota Blitar membuat acara rutin tiap tahunnya. Banyak yang sudah tahu bahwa bulan Juni adalah Bulan Bung Karno, jadwal tiap tahunnya slalu di agendakan oleh pemerintah kota blitar mulai dari baksos, Parade Lampion, Grebek Pancasila sampai dengan puncak acaranya yaitu HAUL BUNG KARNO pada tanggal 21 Juni. ini adalah acara pembuka di Bulan Bung Karno yaitu PARADE LAMPION yang di ikuti oleh sekolah, dinas pemerintaan dan ormas di wilayah Blitar Raya. Parade Lampion di selenggarakan pada malam hari dimulai pukul 19.00 WIB dengan ritual upacara di rumah Bungkarno (Istana Gebang) dilanjutkan pawai lampion menuju ke pelataran Kantor Kota Blitar. semoga tulisan ini bisa jadi referensi bagi pelancong yang mau berkunjung ke Blitar